Waktu Posting : 12-05-2016 10:54 | Dibaca : 1915x
11-06-2024 23:54
Dari dulu hingga kini, stroke termasuksalah satu penyakit yang paling ditakuti. Penyakit ini terjadi ketika jaringan otak tidak berfungsi dengan baik dan aliran darah serta oksigen ke dalamnya kurang. Hingga saat ini, diketahui setidaknya ada beberapa hal yang dapat menyebabkan dan meningkatkan risiko stroke, di antaranya : 1. Tingginya Tekanan Darah Penyebab paling umum terjadinya stroke adalah tingginya tekanan darah, atau dalam dunia medis disebut hipertensi. Sebaiknya kamu waspada akan ancaman stroke jika memiliki tekanan darah lebih dari 140/90. 2. Kebiasaan Merokok Memiliki kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko terkena stroke. Pasalnya, nikotin yang terkandung di dalam rokok dapat meningkatkan tekanan darah (penyebab paling umum dari stroke). Selain itu, asap rokok juga dapat menyebabkan lemak di arteri leher utama menumpuk, darah menjadi lebih kental, dan lebih rentan membeku. Bahaya rokok ini juga perlu diwaspadai oleh mereka yang sering terpapar asap rokok, lho. 3. Mengidap Penyakit Jantung Penyakit jantung dan stroke memang bisa dibilang memiliki hubungan yang erat. Pasalnya, orang yang mengidap penyakit ini lebih rentan terserang stroke, dibanding yang tidak. Hal ini tak terlepas dari fungsi jantung yang sangat vital, yaitu memompa darah ke seluruh tubuh. Berbagai gangguan pada jantung yang dimaksud dalam hal ini termasuk fibrilasi atrium, kerusakan katup jantung, detak jantung yang tidak teratur, dan arteri yang tersumbat karena timbunan lemak. 4. Genetik Faktor ini cukup berpengaruh pada risiko stroke seseorang. Artinya, jika kamu memiliki anggota keluarga dengan riwayat stroke, risiko kamu untuk bisa mengalami kondisi serupa akan meningkat. Oleh karena itu, penting untuk membiasakan diri dan keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. 5. Obesitas Jika obesitas disebut-sebut bisa sebabkan stroke, jawabannya tentu iya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan yang tertuang dalam Obesity and Stroke Fact Sheet dari Obesity Action Coalition, yang menjelaskan bahwa peluang untuk terkena stroke dapat meningkat pada orang yang kelebihan berat badan, tak peduli pria ataupun wanita. Selain itu, obesitas juga menjadi faktor risiko untuk hipertensi, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan stroke. 6. Kolesterol Tinggi yang Tak Terkontrol Kolesterol yang kadarnya terlalu tinggi akan membentuk lapisan pada dinding-dinding pembuluh darah. Akibatnya, pembuluh darah menjadi sempit, sehingga sel-sel darah pun menjadi sulit mengalir ke seluruh tubuh. Jika aliran darah terhambat, risiko penyakit berbahaya seperti stroke pun meningkat. 7. Mengidap Diabetes Diabetes bisa dibilang penyebab tidak langsung terjadinya stroke. Hal ini karena orang yang mengidap penyakit ini biasanya lebih rentan mengalami tekanan darah tinggi dan cenderung obesitas. Kedua kondisi itu dapat meningkatkan risiko stroke. Terlebih, diabetes dapat membuat pembuluh darah menjadi rusak, sehingga stroke jadi lebih mungkin terjadi. 8. Usia Meski bukan faktor penentu utama (karena siapapun bisa mengalami stroke), usia nyatanya dapat meningkatkan risiko. Secara umum, peluang seseorang untuk terserang stroke akan meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah berusia lebih dari 55 tahun. 9. Gender Pada usia yang sama, jika dibandingkan, wanita memiliki risiko yang lebih kecil ketimbang pria, untuk mengalami stroke. Namun, bukan berarti wanita terbebas dari risiko stroke, lho. Mengingat penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tanpa pandang bulu. Hanya saja, kemungkinan stroke pada wanita baru meningkat ketika telah menginjak usia lanjut. Itulah beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya stroke. Cegah penyakit ini dengan menerapkan gaya hidup sehat. Jika kamu merasa berisiko mengalami penyakit ini, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter maupun mengonsumsi obat sesuai petunjuk ahli farmasi. Kunjungi websitenya di https://pafisorongkab.org/.
13-11-2018 17:05
Melakukan pernikahan sekali seumur hidup adalah keinginan semua orang. Pernikahan akan membuat kita terhindar dari hal-hal buruk yang dapat berdampak negative dalam kehidupan sehari-hari. Saat memutuskan untuk menikah, ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan agar pernikahan dapat berjalan dengan lancer sesuai keinginan. Banyak hal yang perlu dipersiapkan dan salah satunya adalah masalah kesehatan. Usia pernikahan telah diatur oleh undang-undang Nomor 1 tahun 1974. Undang-undang tersebut menyebutkan jika batas minimal usia pernikahan untuk laki-laki 19 tahun sedangkan untuk perempuan 16 tahun. Namun walaupun sudah diatur oleh undang-undang tetap saja masih sering terjadi pernikahan di bawah umur. Mereka yang melakukan pernikahan di bawah umur memiliki banyak alas an seperti pendidikan rendah, kemiskinan, hokum adat, norma sosial maupun hokum yang kurang tegas. Padahal banyak sekali risiko kesehatan yang dapat mengancam bagi mereka yang melakukan pernikahan dini. Berikut ini beberapa risiko kesehatan yang dapat terjadi saat melakukan pernikahan dini : 1. Saat hamil di usia muda maka berisiko terserang tekanan darah tinggi. Perlu dilakukan pengobatan agar tidak terjadi komplikasi dan tekanan darah tinggi sangat berbahaya bagi pertumbuhan calon bayi. 2. Bayi berisiko lahir premature. Hal ini karena berat badan bayi rendah dan belum siap untuk dilahirkan. Kelahiran premature dapat mengalami gangguan pencernaan, pernapasan, penglihatan dan lainnya. 3. Berisiko besar ibu meninggal saat melahirkan. Hal ini terjadi karena perempuan di bawah 18 tahun belum siap fisiknya untuk hamil dan melahirkan seperti panggul yang masih kecil sehingga bayi akan mengalami kesulitan untuk keluar. 4. Berisiko besar mengalami keguguran. Hal ini terjadi karena menikah di usia belia belum siap secara fisik dan mental. Organ tubuh yang belum matang akan berakibat pada pertumbuhan bayi yang juga tidak akan bisa berkembang dengan maksimal. 5. Sering mengalami bentrok dan kekerasan rumah tangga. Secara psikologis mental pasangan belum dewasa sehingga lebih rentan terjadi kekerasan rumah tangga.
22-06-2014 18:37
Dampak konsumsi suplemen kreatin (creatine) pada kemampuan kerja seseorang atlet sudah terdokumentasi dengan baik. Cuma saja bila dikonsumsi dalam jumlah besar, suplemen kreatin bakal menyebabkan dampak samping merugikan pada pemakainya. Kreatin ialah asam organik yang di produksi di hati serta ginjal serta berperan memasok tenaga ke semua badan. Dengan demikian suplemen kreatin ialah produk yang ditujukan untuk menambah kemampuan kerja atlet dengan menambah level tenaganya. Suplemen ini pula menolong menambah massa otot lantaran mengoptimalkan sintesis protein. Kreatin adalah asam amino turunan yang amat dibutuhkan oleh otot yang disintesis di dalam hati serta berperan penting dalam menghasilkan adenosin trifosfat. Sementara glisin, metionin, dan arginin merupakan kreatin yang disintesis dalam badan. Sumber makanan kaya kreatin salah satunya ialah daging serta ikan. Beberapa besar asam organik ini disimpan dalam otot rangka. Baca juga : Tips Agar Tidak Mudah Lelah Lantaran kreatin menolong menciptakan kemampuan serta massa otot, orang yang tengah melaksanakan latihan untuk membuat otot badan kerap memakai suplemen kreatin. Pemakaian Orang yang kerap olahraga atau beraktivitas fisik intensitas tinggi dapat memperoleh adenosine triphosphate yang amat diperlukan lewat konsumsi makanan sumber kreatin. Kecuali dari makanan, ada juga suplemen kreatin dalam wujud garam fosfat, sitrat, serta monohydrate. Walau terlebih dipakai untuk menambah kemampuan otot serta melindungi stamina waktu latihan intensif, suplemen ini pula menolong menyembuhkan masalah neuromuskuler. Orang yang terkena masalah kekurangan otot, distrofi otot, stroke, tidak berhasil jantung kongestif, penyakit Parkinson, serta penyakit Lou Gehrig barangkali pula memperoleh faedah dari pemakaian suplemen ini. Lantaran menyajikan daya ke otot, kreatin bisa juga menolong melawan kelelahan otot serta mempercepat kesembuhan dari cedera. Prosedur Kerja Kreatin Kreatin bekerja dengan memberikan fosfat yang diperlukan untuk pergantian adenosin trifosfat (ATP). Saat seorang lakukan aktivitas otot intensitas tinggi, molekul fosfat dipakai untuk sintesis tenaga. Lantaran asam amino derivatif ini melakukan tindakan selaku penyuplai fosfat, keperluan tenaga untuk latihan atau aktivitas fisik seperti lari, angkat besi, dsb dapat terpenuhi. Tetapi, suatu hal yang berlebihan memang jelek. Tingginya kandungan kreatinin, yang disebut produk sambilan kreatin, bisa menambah resiko terjadinya persoalan ginjal. Lantaran olahan limbah mesti disaring lewat ginjal, organ ini bakal melaksanakan kerja berlebihan. Kreatin berlebihan pula menyebabkan batu ginjal. Itu karena, orang yang terkena penyakit hati serta ginjal mesti membatasi mengambil suplemen ini. Dehidrasi adalah dampak samping lain lantaran kreatin menyerap air dari beragam bagian badan ke dalam otot. Bila tak dikonsumsi sesuai dengan dosis yang ditetapkan, kelebihan dari kreatin ini bakal menyebabkan kram otot, diare, mual, kembung, serta kehilangan nafsu makan. Baca juga : 3 Macam Olahraga Penambah Mesra Pasangan Kreatin monohidrat dipercaya adalah wujud sintetis paling baik dari asam amino turunan ini, walau pemakai mesti terus waspada terhadap overdosis. Walau adalah sumber yang potensial bagi ATP, kreatin mesti digunakan sesuai dosis serta durasi yang disarankan untuk memetik faedah maksimal. Memakai kreatin dalam durasi singkat dianggap tak membahayakan. Sebaliknya, bila dipakai dalam jangka panjang, suplemen kreatin dapat menyebabkan beragam persoalan kesehatan. Tersebut di bawah ini salah satunya : 1. Menambahkan Berat Tubuh Bertambahnya berat tubuh umumnya berlangsung disebabkan terakumulasinya air pada otot. Kreatin yang berlebihan pula menyebabkan penambahan jaringan otot yang mengakibatkan penambahan berat tubuh. 2. Rusaknya Ginjal serta Hati Urin pemakai periode panjang kreatin memperlihatkan konsentrasi tinggi ‘kreatinin’ yang disebut olahan limbah kreatin. Konsentrasi tinggi kreatinin adalah indikator ada persoalan pada ginjal. Ginjal mesti bekerja ekstra untuk menyingkirkan kreatinin berlebihan dari badan. Oleh karenanya, dianjurkan untuk menambah konsumsi air untuk turunkan konsentrasi kreatinin. Kecuali itu, pemakaian periode panjang suplemen kreatin bisa mengakibatkan batu ginjal. 3. Mual serta Diare Mual serta diare timbul lantaran konsumsi kreatin berlebihan tak dapat betul-betul larut dalam perut. 4. Kram Otot Kram dikarenakan lantaran kurangnya air atau cairan dalam badan. Suplemen kreatin di ketahui menarik air dari sisi badan lain ke otot. Oleh karenanya, konsumsi air atau cairan mesti ditingkatkan untuk hindari kram otot. 5. Dehidrasi Kurangnya cairan dalam badan dapat mengakibatkan dehidrasi, serta konsumsi kreatin menambah kesempatan terjadinya hal yang sama. Dehidrasi di ketahui dapat menyebabkan batu di ginjal. Kecuali itu, kembung pula dilaporkan dihadapi beberapa pemakai. 6. Kurangnya Produksi Kreatin Alami Badan tak dapat mensintesis kreatin dengan cara alami sesudah pemakaian berkepanjangan suplemen ini. Ketidakmampuan ini memaksa seorang mesti sediakan kreatin dari sumber eksternal. Waktu suplemen dipakai dalam periode waktu pendek, badan bakal kembali ke kebiasaan awal mulanya serta dapat lakukan sintesis kreatin. 7. Dampak Samping Lain Demam, intoleransi panas, rasa haus terlalu berlebih, sakit kepala ringan, kegelisahan, serta depresi pula teramati selaku dampak samping lain yang barangkali timbul.